Selasa, 02 Maret 2010

ANALISA Staphylococcus DALAM PANGAN

A. ACARA
Melakukan analisa Staphylococcus dalam sample produk pangan.

B. PRINSIP
Menganalisa dan mengidentifikasi koloni bakteri Staphylococcus dengan menggunakan mikroskop binokuler.

C. TUJUAN
Untuk mengetahui adanya staphylococcus dalam produk pangan serta agar mampu mengidentifikasi bentuk maupun karakteristik dari Staphylococcus.

D. TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri merupakan mikroba uniseluler, yang termasuk dalam kelas Schizomycetes, tidak mempunyai klorofil, dan reproduksi secara aseksual dengan cara pembelahan sel. Hidup bebas, parasitic, saprofitik atau sebagai pathogen pada manusia, hewan dan tanaman.
Komponen bakteri :
• Flagella
tidak semua bakteri memiliki flagella, tetapi bakteri yang berbentuk batang (bacil) memiliki flagella, yang berfungsi sebagai alat gerak.
• Kapsul
beberapa bakteri diselimuti oleh zat seperti lender (gelatinous) yang disebut kapsul, strukturnya bisa tipis atau tebal. Berfungsi untuk melindungi diri dari kondisi yang tidak menguntungkan.
• Dinding sel
dinding sel bias membentuk bentuk sel, bersifat seperti membran permeable selektif dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam aktivitas sel.
• Membran sitoplasma
Bersifat permeable yang berfungsi untuk mengontrol masuknya bahan makanan ke dalam sel dan pembuangan hasil buangan ke luar sel).
• Nukleus (Inti sel)
Inti sel terlihat pada bakteri setelah bakteri diberi pewarna khusus, komposisi dan densitasnya hmspir sama dengan komposisi dan densitas sitoplasma.
• Granula
Merupakan endapan volutin 9senyawa N), karbohidrat atau lemak dalam sitoplasma yang berfungsi sebagai persediaan makanan bagi sel.
• Vakuola
Pada sel bakteri dewasa, cadangan makanan yang dibuat dalam sel akan larut dalam vakuola, sedangkan yang tidak larut akan mengendap di dalam sitoplasma.

Bakteri memerlukan air yang lebih banyak dibandingkan dengan kapang dan khamir, sebagian besar dapat tumbuh pada Aw = 1,00 dan juga dapat tumbuh pada kadar garam dan gula dengan konsentrasi gula dan garam rendah. , kecuali pada bakteri yang toleran terhadap kadar garam dan gula dengan konsentrasi tinggi.
Staphylococcus aureus merupakan kelompok bakteri gram positif, tidak bergerak ditemukan satu-satu, berpasangan, berantai pendek atau bergerombol, tidak membentuk spora, tidak berkapsul, dan dinding selnya mengandung dua komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam teikhoat. Proses metabolisme bakteri ini Metabolisme dapat dilakukan secara aerob dan anaerob.
Infeksi yang diakibatkan dapat di golongkan sebagai penyakit menular atau lokal (biasanya) atau menyebar (jarang). Staphylococcus merupakan sel yang berbentuk bola dengan garis tengah sekitar 1┬Ám dan tersusun dalam kelompok tak beraturan. Staphylococcus aureus menghasilkan koagulase,suatu protein mirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang telah diberi oksalat atau sitrat dengan bantuan suatu faktor yang terdapat dalam banyak serum. Bakteri yang membentuk koagulase dianggap mempunyai potensi menjadi patogen invasif.
Staphylococcus aureus dapat ditemukan di kulit dan di hidung manusia. Hidung biasanya dianggap tempat utama berkembangnya kolonisasinya dan ada kalanya dapat menyebabkan infeksi dan sakit parah. nekrosis tulang dan penanahan menahun.
Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan penyebab intoksitasi dan terjadinya berbagai macam infeksi seperti pada jerawat, bisul, juga pneumonia, empiema, endokarditis, atau penanahan pada bagian tubuh mana pun Leukosidin; toksin Staphylococcus aureus ini dapat mematikan sel darah putih pada banyak hewan yang terkena oleh toksin ini, tetapi peranannya dalam patogenesis tidak jelas, sebab staphylococcus patogen tidak mematikan sel-sel darag putih dan dapat difagositosis seefektif jenis yang tidak patogen, namun bakteri tersebut mampu berkembang biak dengan sangat aktif di dalam sel.
E. ALAT DAN BAHAN
• Alat
o cawan Petri
o mikro pipet dan tip
o incubator
o pipet ukur 25 mL
o pipet ukur 1 mL
o spatula
o Erlenmeyer 500 mL
o hot plate
o magnetic stirrer
o autoklaf
o beaker glass
o tabung reaksi
o kapas
o pembakar spiritus
o botol sample
o vortex
o neraca analitik
o thermometer.
• Bahan
o Aquadest
o sample susu
o media NA (Nutrient Agar).



F. PROSEDUR KERJA
• Pembuatan Media
1. mencampurkan 11,5 gram serbuk NA dalam 0,5 liter aquadest.
2. memanaskannya di atas hot plate, sambil diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer, hingga seluruh bahan homogen
• Sterilisasi Peralatan dan Media.
1 menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan, beserta media.
2. mensterilisasi semua alat dan bahan beserta media yang akan digunakan di dalam autoklaf dalam suhu 121oC 1 atm selama 15 menit.
• Homogenisasi contoh dan Pengenceran
1. memipet sample susu sebanyak 25 mL ke dalam botol sample yang telah berisi 225 mL larutan pengencer. Mengocok sample dalam botol hingga homogen (25 kali)
2. membuat pengenceran dari 10-1 hingga diperoleh pengenceran yang diperlukan.








• Perbenihan
1. memipet 1 mL dari masing-masing pengenceran ke dalam cawan Petri steril secara simplo dan duplo
2. menuangkan media NA sebanyak 12-15 mL ke dalam cawan Petri (media telah dicairkan pada suhu 45oC ± 1oC dalam waktu 15 menit dari pengenceran pertama
3. menggoyangkan cawan Petri dengan hati-hati (memutar dan menggoyangkan ke depan dan ke belakang serta ke kanan dan ke kiri) hingga contoh tercampur rata dengan media.
4. mengerjakan pemeriksaan blanko dengan menuangkan media ke dalam cawan Petri.
5. memasukkan semua cawan Petri dengan posisi terbalik ke dalam incubator dan diinkubasikan pada suhu 35±1oC selama 48 jam.
6. mengamati bakteri Staphylococcus di bawah mikroskop.
G. DATA PENGAMATAN
PENGENCERAN JUMLAH KOLONI KET
10-2 2
10-3 3
10-4 6
10-5 - Terkontaminasi jamur



H. PEMBAHASAN
sample yang dipergunakan saat praktikum adalah susu, susu yang dipergunakan adalah susu bayi yang sudah rusak, dan diperkirakan dalam susu tersebut terkandung bakteri jenis Staphylococcus aureus.
Bakteri akan tumbuh dengan baik pada media yang disesuaikan dengan jenis bakterinya. Pada inokulasi bakteri Staphylucoccus aureus, media yang dipergunakan seharusnya merupakan media yang spesifik, akan tetapi saat praktikum media yang dipergunakan adalah media NA (nutrient Agar), media NA memang sering dipergunakan untuk menumbuhkan berbagai jenis bakteri pada umumnya, padahal dengan media yang lebih spesifik akan dapat menumbuhkan bakteri dengan maksimal.
Seperti yang sudah diketahui bahwa Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif, tidak bergerak ditemukan satu-satu, berpasangan, berantai pendek atau bergerombol, tidak membentuk spora, tidak berkapsul, dan dinding selnya mengandung dua komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam teikhoat. Metabolisme dapat dilakukan secara aerob dan anaerob. Penyusunan bakteri yang berbentuk coccus seperti Stapylococcus ini dihasilkan oleh pembian yang disebut “binary fission”, yaitu satu sel bakteri akan membeleh diri dan akan membentuk dua sel baru.
Seperti yang sudah disebutkan bahwa tujuan utama dari praktikum ini adalah mengidentifikasi bakteri Staphylococcus aureus dalam sample, sehingga sebenarnya proses perhitungan bakteri tiap pengeneran tidak terlalu diperlukan.
Proses pengenceran dilakukan sampai 10-5, dan setiap pengenceran dilakukan simplo (1 kali). Semua proses dilakukan secara asepris untuk menghindari kontaminasi dari mikroba lain. Setelah cawan berisi larutan sample dan pengencer selanjutnya ditambahkan dengan media NA hangat, kondisi yang terlalu panas akan menyebabkan bakteri yang akan diidentifikasi mati, sedangkan pada kondisi dingin media akan mengeras dan menyulitkan untuk dituangkan ke dalam cawan.
Setelah cawan berisi media, maka proses selnajutnya adalah dibiarkan sampai media mengeras, setelah media mengeras kemudian dimasukan dalam incubator dengan suhu inkubasi ± 37oC selama 48 jam (2 hari). Cawan dalam posisi terbalik (bagian atas cawan dibawah) ketika dimasukan dalam incubator.
Berdasarkan hasil praktikum dan pengamatan, saat praktikum analisa staphylucoccus aureus dengan menggunakan mikroskop tidak dapat diidentifikasi, pada lensa mikroskop tidak terlihat bentuk bakteri stapylococcus yang berdasarkan teori berbentuk seperti rantai atau anggur. Sehingga proses identifikasi tentang bakteri ini tidak dapat dilakukan secara menyeluruh. Jenis bakteri dalam media NA pun tidak dapat diketahui karena media yang dipergunakan adalah media umum untuk menumbuhkan bakteri sehingga jenis bakteri yang tumbuh pun tidak dapat diketahui.
Hal tersebut dapat disebabkan karena media yang dipergunakan bukan media spesifik staphylococcus aureus, melainkan media NA sehingga bakteri yang tumbuh kemungkinan besar adalah bakteri mesofil lain yang juga dapat tumbuh pada media yang sama, seharusnya proses identifikasi dilakukan dengan menggunakan media spesifik berdasarkan jenis bekteri yang akan diidentifikasi, sehingga hasil dari identifikasi tidak salah dan bektri yang tumbuh dapat diiperkirakan semuanya adalah bakteri yang dimaksud.

I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Staphylococcus merupakan salah satu bakteri mesofil aerob yang berbentuk coccus (bulatan). Bakteri ini dapat ditumbuhkan pada media agar, karena nutrisi utama yang dibutuhkan adalah protein. Bakteri ini tumbuh pada suhu ± 37oC sehingga diinkubasikan pada suhu yang sama, Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif. Dalam pengamatan jika dialkukan di bawah mikroskop bakteri ini berbentuk bulatan-bulatan bergerombol seperti rantai atau anggur.

J. DAFTAR PUSTAKA
• Dwidjoseputro. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Penerbit Djambatan.
• Supardi, Imam. 1999. Mikrobiologi Dalam Pengolahan dan Keamanan Pangan. Bandung : Yayasan Adikarya Ikapi
• Jennie, Betty Sri Laksmi. 1978. Mikrobiologi Hasil Pertanian. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
• Muctadi, Deddy. 1980. Petunjuk Praktik Mikrobiolgi Hasil Pertanian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.