Selasa, 02 Maret 2010

ANALISA NaCl METODE ARGENTOMETRI CARA MOHR

ANALISA KADAR NaCl DALAM TEPUNG TAPIOKA
DENGAN TITRASI ARGENTOMETRI CARA MOHR
A. PRINSIP
Titrasi Argentometri berdasar atas reaksi kresipilasi (pengendapan dari ion Ag+)

B. TUJUAN
Mengetahui kadar NaCl dalam sample (tepung tapioca).

C. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tepung tapioca
Tepung tapioca yang dibuat dari ubi kayu mempunyai banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan pembantu dalam berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung, kentang, dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik sehingga mengurangi kerusakan tenun, juga digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih.
Tapioka yang diolah menjadi sirup glukosa dan destrin sangat diperlukan oleh berbagai industri, antara lain industri kembang gula, penggalengan buah-buahan, pengolahan es krim, minuman dan industri peragian. Tapioka juga banyak digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi dan bahan pengikat dalam industri makanan, seperti dalam pembuatan puding, sop, makanan bayi, es krim, pengolahan sosis daging, industri farmasi, dan lain-lain.
Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Warna Tepung; tepung tapioka yang baik berwarna putih.
b. Kandungan Air; tepung harus dijemur sampai kering benar sehingga kandungan airnya rendah.
c. Banyaknya serat dan kotoran; usahakan agar banyaknya serat dan kayu yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat dan zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.
d. Tingkat kekentalan; usahakan daya rekat tapioka tetap tinggi. Untuk ini hindari penggunaan air yang berlebih dalam proses produksi.

2. Titrasi Argentometri
Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi Argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan. (Al.Underwood,1992).
Berdasarkan indicator yang dipergunakan untuk menentukan titik akhir, argentometri dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
a. Cara Mohr (1856) : indicator K2CrO4, titrant adalah AgNO3. Terutama untuk menentukan garam klorida dengan titrasi langsung atau menentukan garam perak dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan baku NaCl berlebih. pH harus diatur agar tidak terlalu asam maupun terlalu basa (berada diantara 6-10).
b. Cara Volhard : indicator Fe3+, titrant KSCN atau NH4SCN. Untuk menentukan garam perak dengan titrasi langsung, atau garm-garam klorida, bromide, iodide, tiosianat, dengan titrasi kembali setelah ditambah larutan baku AgNO3 berlebih; juga untuk anion-anion lain yang lebih mudah larut dari AgSCN, tetapi dengan usaha khusus. pH harus cukup rendah, kira-kira 0,3 MH+ agar Fe3+ tidak terhidrolisa.
c. Cara Fajans : indicator adalah salah satu indicator adsorpsi menurut macam anion yang diendapkan oleh Ag+, titrant AgNO3; pH tergantung dari macam anion dan indicator yang dipakai.



D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
• Neraca analitik
• Labu ukur 100 mL
• Botol semprot
• Corong gelas
• Kertas saring
• Batang pengaduk
• Erlenmeyer
• Buret
• Beaker glass
• Pipet volum
• Pipet ukur
• Pipet tetes

2. Bahan
• Sample (tepung tapioca)
• Aquadest
• Indicator K2CrO4 5 %
• Larutan AgNO3 0,01 N







E. PROSEDUR
1. Sample ditimbang dan dimasukan kedalam labu ukur 100 mL, dilarutkan sampai tanda batas.
2. Dikocok hingga homogen, kemudian disaring.
3. Filtrat dipipet sebanyak 25 mL dan ditambahkan indicator K2CrO4 5% sebanyak 2 mL.
4. Larutan dititrasi dengan menggunakan larutan AgNO3 0,01 N sampai terjadi warna merah bata.

F. DATA PENGAMATAN
1. Data hasil
No Nama sample Berat sample (g) N AgNO3 Vol. Titrasi (mL) % NaCl Rata-rata
1. Sample 1 5,014 0,01 0,1 0,0023 0,00135%
2. Sample 2 0,06 0,0004
3. Blanko - 0,05 - -
Fp : 4
Perhitungan :


a. Sample 1 :
% NaCl = {(0,1-0,05) x 4 x 0,01 x 58,5} / 5014 x 100
= 0,0023%
b. Sample 2 :
% NaCl = {(0,06-0,05) x 4 x 0,01 x 58,5} / 5014 x 100
= 0,0004%



G. PEMBAHASAN
Analisa kuantitatif NaCl dalam tepung tapioca ini dilakukan 2 kali (duplo) dengan titrasi argentometri, yaitu titrasi yang menyangkut penggunaan larutan perak nitrat (AgNO3), dan analisa kadar NaCl ini mempergunakan cara Mohr. Selain itu pada analisa ini juag dilakukan pengujian blanko, hal ini dilakukan untuk mengetahui nilai koreksi.
Sample yang dipergunakan dalam analisa kadar NaCl ini adalah tepung tapioca dengan merk dagang “99”, tepung tapioca terebuat dari ubi kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan pembantu dalam berbagai industry, terutama industry makanan. Dalam kemasan produk tepung tapioca tersebut tidak disebutkan tentang kadar NaCl yang terkandung dalam produk.
Titrasi dengan cara mohr ini dilakukan dengan mempergunakan larutan K2CrO4 5% sebagai indicator dan larutan AgNO3 0,01 N sebagai titrant. Sebelum dilakukan analisa, sebelumnya sample ditimbang sebanyak 5 gram dengan menggunakan neraca analitik dan saat praktikum sample yang berhasil ditimbang adalah 5,014 gram. Setelah sample ditimbang kemudian dimasukan kedalam labu ukur dan dilarutkan dengan menggunakan aquadest sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen.
Larutan yang homogen kemudian disaring dan filtratnya dipipet sebanyak 25 mL dan dimasukan kedalam Erlenmeyer. Kemudian ditambahkan indicator K2CrO4 5% sebanyak 2 mL, dan kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan AgNO3 0,01 N. Pada awal titrasi terjadi reaksi :



Dan pada titik akhir, titrant juga bereaksi menurut reaksi :




Dari hasil praktikum, maka dapat diketahui volume titrasi pada sample 1 adalah 0,1 mL dan pada sample 2 adalah 0,06 mL. dari hasil praktikum dan perhitungan maka dapat diketahui bahwa kadar NaCl dalam tepung tapioca pada sample 1 adalah 0,0023% dan pada sample 2 adalah 0,0004%, sehingga rata-rata kadar NaCl dalam sample tepung tapioca dengan merk dagang “99” adalah 0,00135% NaCl.
Akan tetapi hasil analisa tersebut belum dapat dipastikan keakuratannya, hal ini disebabkan karena banyak sekali hal yang sangat mempengaruhi nilai akhir analisa akan tetapi tidak dilakukan.
Yang pertama adalah proses pengaturan pH pada larutan sample, berdasarkan teori pH larutan sample seharusnya diatur agar tidak terlalu asam maupun terlalu basa (pH 6 s/d 10). Hal ini perlu dilakukan karena bila pH larutan terlalu tinggi dapat terbentuk endapan AgOH yang selanjutnya terurai menjadi Ag2O sehingga volume titrant naik dan akan mempengaruhi nilai perhitungan menjadi lebih tinggi daripada nilai sebenarnya.
Sebaliknya, jika pH larutan terlalu rendah maka ion CrO4- sebagian berubah menjadi Cr2O7 yang mengurangi konsentrasi indicator dan menyebabkan tidak timbulnya endapan atau sangat terlambat.
Yang kedua adalah tidak dilakukannya proses standardisasi larutan AgNO3 saat praktikum, larutan AgNO3 bukan merupakan larutan primer sehingga sebaiknya jika dipergunakan sebagai titrant pada proses analisa sebaiknya dilakukan standardisasi terlebih dahulu untuk memastikan berapa konsentrasi sebenarnya, sehingga hasil analisa yang dilakukan lebih maksimal dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari hasil analisa tersebut maka dapat diketahui bahwa dalam sample tepung tapioca hanya sedikit mengandung NaCl. Selain hal tersebut, hasil analisa kadar NaCl dalam tepung tapioca ini juga tidak dapat dibandingkan dengan standar yang ada seperti SNI (Standar Nasional Indonesia), karena dalam standar mutu tepung sagu SNI 01-3729-1995, parameter NaCl tidak termasuk dalam klasifikasi standar mutu.

H. KESIMPULAN
Dari hasil analisa dan perhitungan diperoleh kadar NaCl dalam sampel tepung tapioka “99” sebesar 0.00135%. Hal ini menunjukan bahwa dalam sampel tepung tapioka hanya mengandung sedikit sekali NaCl. Hasil dari analisa ini tidak dapat dibandingkan dengan standar mutu tepung tapioca, hal ini dikarenakan parameter NaCl tidak tercantum dalam standar mutu dari tepung tapioca itu sendiri.

I. DAFTAR PUSTAKA
• Harjadi, W. 1996. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia
• Tri Radiyati dan Agusto, W.M. Tepung Tapioka (perbaikan). Subang: BPTTG Puslitbang Fisika Terapan – LIPI, 1990 Hal. 10-13.
• Underwood, A. L et al. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif edisi keenam. Jakarta: Erlangga
• http://id.wikipedia.org
• www.iptek.net.id

3 komentar:

  1. thanks buat infonya ya....
    aku jadi punya bahan buat bikin laporan..

    BalasHapus
  2. Saya mengutip untuk referensi bahan kuliah ya..
    Thanks :D

    BalasHapus

.